Etos Kerja Pribadi Muslim
Etos Kerja Pribadi Muslim
Muhammad Agus Purwanto
Mahasiswa
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam-Fakultas Agama Islam-Universitas
Muhammadiyah Prof. DR. Hamka
Email : agusmuhammad53111@gmail.com
ABSTRAK
Etos kerja didalam Islam telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul
terdahulu. Seperti yang kita ketahui bersama ketika masa remaja, nabi Muhammad
saw merupakan seorang pedagang yang ulet dan jujur hingga beliau mendapatkan
gelar al-amin. Berkat etos kerja keras tersebut usaha berdagang nabi Muhammad
saw dapat berkembang. Nabi Nuh seorang yang pandai dalam membuat kapal. Nabi
Musa seorang pengembala yang ulet. Nabi Sulaiman merupakan seorang insinyur.
Nabi Yusuf seorang akuntan. Nabi Zakaria seorang tukang kayu dan nabi Isa
seorang tabib. Padahal jika Allah berkehendak, para nabi dan rasul tersebut tentu
mampu hidup bergelimang kemewahan tanpa bekerja keras, tetapi Allah memberikan
hikmah kepada hambanya, bahwa para utusan Allah tersebut tidak hanya menyeru
manusia untuk menyembah tuhan, tetapi juga manusia diperintahkan untuk
memakmurkan alamnya karena manusia diciptakan oleh Allah swt sebagai khalifah
dimuka bumi. Namun seringkali umat Islam terjebak dengan istilah tawakkal dan
qana’ah, yang diartikan sebagai berserah diri, ridha dan bersyukur atas rezeki
yang telah Allah berikan. Padahal esensi Islam justru mendahulukan konsep
bekerja keras terlebih dahulu sebelum bertawakkal kepada sang pencipta.
PENDAHULUAN
Agama Islam merupakan agama yang universal, agama yang mengatur
segala aspek kehidupan, di mana ajarannya menganjurkan umatnya untuk bekerja.
Hal ini mengandung arti untuk bisa merealisasikan fungsi kehambaan kepada Allah
swt dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf
hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain.
Etos kerja pribadi muslim adalah sikap kepribadian yang menciptakan
pengertian bahwasanya bekerja bukan hanya untuk mencari kekayaan duniawi
ataupun untuk kemuliaan diri sendiri. Melainkan sebagai manifestasi amal saleh
sehingga dapat memompakan semangat bekerja keras, dan tujuan dari bekerja
adalah menunaikan amanah dari Allah swt. Hal ini tentu akan dapat meninggikan
derajat mereka di hadapan Allah swt.
Oleh karena
itu, Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras, karena pada dasarnya
kehidupan tidak akan terjadi dua kali, sehingga apabila mereka menyia-nyiakan
waktu, mereka akan tergolong menjadi orang-orang yang merugi. Hendaknya dalam
hidup yang hanya satu kali ini, mereka benar-benar bisa memanfaatkan waktu
mereka. Sekaligus untuk menguji orang beriman siapakah diantara mereka yang
paling rajin dan tekun dalam bekerja.
PEMBAHASAN
ETOS KERJA
Ethos berarti sikap,
kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja
dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok dan masyarakat. Ethos dibentuk
oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakini
Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kata “kerja” berarti aktivitas mengerjakan sesuatu. Toto Tasmara mendefinisikan
bekerja bagi seorang muslim sebagai: “suatu upaya sungguh-sungguh dengan
mengerahkan seluruh aset, fikir dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan
arti dirinya sebagai hamba Allah yang menundukkan dunia dan menempatkan dirinya
sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (Khoiru Ummah) atau dengan
kata lain bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya”
Dalam kesimpulannya, Toto
juga menyebut bahwa etos kerja adalah totalitas kepribadian diri, serta cara
mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna sesuatu yang
mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal secara optimal (high
performance).
Konsep etos kerja Islami
haruslah berlandaskan atas konsep iman dan amal saleh sehingga etos kerja
Islami memiliki karakteristik kerja yang merupakan penjabaran aqidah, kerja
dilandasi ilmu, dan kerja dengan meneladani sifat-sifat Ilahi serta mengikuti
petunjuk-petunjuk-Nya
Menurut Hidayat ada 10
etos kerja yang harus dilakukan oleh seorang individu dalam menjalani
profesinya, yaitu
1)
Mencari Rezeki. Allah
menyuruh para hamba-Nya untuk bekerja dan berusaha di muka bumi untuk memeroleh
rezeki sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Jumuah ayat 9-10.
2) Bekerja Keras. Islam mengajarkan
betapa pentingnya kerja keras sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-An’am ayat
135, surat Hud ayat 93 dan surat Az-Zumar ayat 39.
3) Ikhlas. Dalam konsep
Islam, setiap perbuatan seorang muslim akan bernilai ibadah manakala diniatkan
karena Allah dan dilakukan dengan penuh keikhlasan. Rasulullah bersabda, “Usaha
yang paling baik adalah usaha orang-orang yang bekerja dengan ikhlas”(HR Ahmad).
4) Jujur. Kejujuran merupakan
kunci keberhasilan dari berbagai lapangan kehidupan. Rasulullah menjelaskan: “Sesungguhnya
sebaik-baik usaha ialah usaha perdagangan, apabila mereka berkata tidak berdusta,
apabila diamanahi tidak berkhianat dan apabila berjanji tidak mengingkari…. (HR
Muslim).
5) Kerjasama. Bekerja sama
akan mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuan. Allah berfirman: “Dan
tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa dan janganlah tolong menolong dalam
berbuat dosa dan pelanggaran (Q.S. Al-Maidah : 2).
6) Keseimbangan. Islam mengajarkan
untuk seimbang dalam aktivitas apapun. Dalam surat Al-Baqarah ayat 143 Allah
berfirman: “Demikian telah Kami jadikan kamu umat yang tengah (adil).”
7) Melihat ke depan (futuristic).
Dalam Surat Al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok.”
8) Larangan memonopoli. Islam
sangat melarang menimbun barang meskipun dengan menggunakan uang sendiri.
Tindakan menimbun ini akan menimbulkan kerusakan dan kezaliman.
9) Larangan meminta-minta.
Islam adalah ajaran yang penuh dengan perintah kepada umatnya untuk bekerja keras
dan mengecam untuk meminta-minta.
10) Mendahulukan kualitas/kerapihan.
Islam sangat menghargai kedudukan pembeli. Oleh karena itu, seorang pedagang
harus memperhatikan kualitas, sehingga pembeli menjadi ikhlas dan puas.
Bekerja merupakan kodrat
hidup manusia, sekaligus cara memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat
Menurut Qardhawi yang
dikutip oleh Hartini (2012) menjelaskan bahwa agama Islam memandang bekerja
adalah bagian dari ibadah dan jihad jika sang pekerja bersikap konsisten terhadap
peraturan Allah SWT, suci niatnya dan tidak melupakan-Nya
Menurut Antonio,
sedikitnya ada lima landasan Al-Quran yang dapat menjadi sumber nilai bagi seorang
individu dalam bekerja
1)
Allah menyediakan rizki
bagi setiap hamba-Nya (Q.S. Hud ayat 6).
2)
Mencari rizki atau berusaha
adalah perintah Allah yang harus dikerjakan (Q.S. Al-Jumu’ah ayat 10).
3)
Memaksimalkan potensi dan
kemampuan diri demi meraih hasil yang lebih baik (Q.S. An-Najm ayat 39).
4)
Semangat dalam berusaha,
optimis dan pantang menyerah (Q.S. Ali-Imran ayat 139, Q.S. Fussilat ayat 30, Q.S.
Yunus ayat 62).
5) Bertawakal kepada Allah dalam mencari penghasilan (Q.S.
Ali Imran ayat 173-174, Q.S. Fathir ayat 2, dan Q.S. At-Thalaq ayat 3).
ETOS KERJA MENURUT Q.S.
Al-Jumu’ah Ayat 9-11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ
لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ
تَعْلَمُوْنَ
Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.”
Q.S. Al-Jumu’ah ayat 9 ini berkenaan dengan seruan dari
Allah swt kepada orang-orang yang beriman agar mendirikan salat Jum’at. Kata
seruan pada ayat di atas, sebenarnya dapat dipahami tidak hanya sebatas azan
yang dikumandangkan oleh muazin pada hari Jum’at, tetapi seruan dari Allah swt.
Para sahabat selalu datang ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at sebelum
waktu Jum’at tiba, bahkan ada yang datang pagi-pagi, tidak menunggu azan tiba.
Di akhir ayat, ditegaskan bahwa menaati perintah Allah
swt yakni dengan melaksanakan perintah salat Jum’at adalah lebih baik bagi
orang-orang yang memahaminya. Sebab selain akan memperoleh keridhaan Allah swt
salat Jum’at dapat menimbulkan kesatuan dan persatuan antara umat Islam,
memperkuat ukhuwah Islamiyah, karena salat Jum’at dilakukan dengan cara
berjama’ah.
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا
مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah
kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung.”
Pada ayat ke-10 surat Al-Jumu’ah, Allah swt melanjutkan
seruan-Nya, yaitu apabila telah selesai melaksanakan salat Jum’at, maka
segeralah mencari karunia Allah swt, yakni diperbolehkan kembali bertebaran di
muka bumi, mengerjakan urusan duniawi, dan berusaha mencari rezeki yang baik
dan halal.
Ar-Razi menyatakan bahwa makna fantasyiru fi al-ardhi
dalam ayat tersebut mengacu pada dua hal, yaitu perintah untuk menyelesaikan
tugas-tugas hidup setelah menyelesaikan salat jum’at dan larangan berdiam diri,
istirahat, tidur di dalam masjid. Karena masih banyak tugas-tugas hidup lain di
luar masjid seperti berdagang, rapat, silaturrahim, masuk kantor lagi, memberi
kuliah dan sebagainya yang harus diselesaikan
وَاِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا ۨانْفَضُّوْٓا
اِلَيْهَا وَتَرَكُوْكَ قَاۤىِٕمًاۗ قُلْ مَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ مِّنَ
اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
Artinya : “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau
permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu
sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada
permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezeki.”
Kandungan ayat ke-11, diawali dengan pernyataan Allah swt
tentang sikap sebagian orang mukmin yang masih silau dengan perniagaan duniawi,
padahal sedang mendengar khutbah Nabi Muhammad saw di mana, asbābun-nuzūl
ayat ini berkenaan dengan kedatangan rombangan unta dari kafilah dagang Dihyah
al-Kalby dari Syām (Suriah) dengan membawa dagangan, seperti tepung, gandum,
minyak dan lain-lain.
Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk
lebih mementingkan perkara yang bersifat duniawi telah ada sejak zaman Nabi Muhammad.
Kemudian Allah swt mengingatkan bahwa apa yang ada di sisi Allah swt lebih baik
daripada permainan dan perdagangan. Keridhaan dari Allah swt jauh lebih baik
daripada yang diusahakan manusia.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai
penghayatan dan pengamalan Q.S. Al-Jumu‘ah [62] : 9-11 adalah
1.
Segera menunaikan salat
Jum’at manakala telah mendengar seruan azan di hari Jum’at seraya segera
meninggalkan segala aktivitas keseharian kita.
2. Pada saat menunaikan
ibadah salat Jum’at senantiasa memperhatikan khatib dan melupakan sementara
aktivitas pekerjaan untuk mengingat Allah swt.
3. Ketika salat Jum’at telah selesai ditunaikan maka bersegeralah
melanjutkan aktivitas semula untuk mencari karunia Allah swt.
ETOS KERJA MENURUT Q.S. Al-Qashaash Ayat 77
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ
وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ
اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ
الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allaxh telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di
(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.”
Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman
untuk dapat menciptakan keseimbangan antara usaha untuk memperoleh keperluan
duniawi dan usaha untuk keperluan ukhrawi. Tidak mengejar salah satunya dengan
cara meninggalkan yang lain. Nabi Muhammad saw sangat mencela orang yang hanya
mengejar akhirat dengan meninggalkan duniawi, apalagi menjadi beban orang lain
dalam masalah nafkah.
Manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Oleh karenanya, penting
bagi manusia untuk bisa menyeimbangkan antara kepentingan jasmani (material) dan
rohani (spiritual) dalam diri manusia. Selanjutnya, ayat ini juga memerintahkan
kepada manusia untuk bisa berbuat baik kepada Allah swt dan sesamanya.
Kewajiban berbuat baik ini sebagai perwujudan sifat-sifat Allah swt yang Maha Raḥmān
dan Raḥīm kepada seluruh makhluk-Nya.
Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dan pengamalan
Q.S. Al-Qaṣhaaṣh [28] : 77 adalah
1. Senantiasa
menyeimbangkan kegiatan yang menyangkut urusan akhirat dan dunia.
2. Manakala
sedang mengerjakan ibadah, kita senantiasa bersungguh-sungguh dan penuh
kekhusyuʻan dalam melakukannya. Demikian juga sebaliknya, saat bekerja haruslah
senantiasa serius dan giat penuh tanggung jawab.
3.
Senantiasa
berbuat baik kepada sesama dan tidak membuat kerusakan.
ETOS KERJA MENURUT HADITS RASULULLAH SAW
مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ
فَهُوَ صَدَقَةٌ
Artinya : “Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali
dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh
seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah.”
(HR. Ibnu Majah).
Hadis di atas merupakan motivasi dari Nabi Muhammad saw kepada kita
umatnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Kita dilarang oleh Nabi hanya bertopang
dagu dan berpangku tangan mengharap rezeki datang dari langit. Kita harus giat
bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Hal
ini tentunya juga umat islam bekerja bukan sembarang kerja, tetapi pekerjaan
yang halal dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam.
Nilai mulia dari hasil kerja bukan hanya dari sisi memperolehnya
saja, tetapi juga turut didalam membelanjakannya baik untuk anak, istri, maupun
pembantu maka terhitung sedekah oleh Allah swt. Betapa mulianya ajaran Islam
yang sangat mendukung para pemeluknya untuk giat bekerja dan tidak
bermalas-malasan.
KESIMPULAN
Sikap kerja keras dan berusaha untuk
mengubah nasib, rajin dan sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan merupakan
anjuran dan kewajiban bagi seorang muslim. Agama merupakan motivasi dan sumber
gerak serta dinamika dalam mewujudkan etos kerja. Islam memerintahkan manusia
untuk bekerja dan mengubah nasibnya sendiri. Manusia wajib berusaha dan berikhtiar
untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan masing-masing. Memang hanya manusia
yang mau berusaha, bekerja keras dan sungguh-sungguh yang akan meraih prestasi,
baik kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat..
DAFTAR PUSTAKA
Antonio, M. S.
(2012). Ensiklopedia bisnis dan Kewirausahaan. Jakarta: Tazkia
Publishing.
ar-Razi, F.
(1981). Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar al-Fikr.
Asifuddin, A. J.
(2004). Etos Kerja Islami. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Bukhori, P. M.
(2020). Al-Qur'an Hadis MA Kelas XI. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI.
Hartini, S.
(2012). Peran Inovasi : Pengembangan Kualitas Produk dan Kinerja Bisnis. Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan, 63-90.
Hidayat, I. S.
(2006). Etos Kerja Sesuai Dengan Etika Profesi Islam. Jurnal Sosial dan
Pembangunan, 130-142.
Tanjung, D. H.
(2003). Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta: Gema Insani.
Tasmara, T.
(2008). Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta: Gema Insani.
Komentar
Posting Komentar